Bulan mulia yang penuh rahmat dimana Sang Penerang ajaran Islam lahir. Alangkah indahnya jika kita dapat memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini dengan melakukan sesuatu yang positive bukannya
Rasulullah dan umatnya mengharapkan suatu kedamaian dalam hidup bersosial ini. Cita – cita sosial Islam dimulai perjuangannya dengan menumbuhkan aspek – aspek akidah dan etika dalam diri pemeluknya. Seperti memahami, menghayati ajaran akidah Islam, ushuluddin, dan ajaran dasar lainnya. Dengan bekal dan bahan ini seorang pribadi muslim dapat memulai awal kehidupannya dengan iman yang kokoh, produktif, dan moril dengan inklusif Islam. Ini dimulai dari pribadi seorang, kemudian keluarga sampai masyarakat. Harus ada sosialisasi antara satu anggota masyarakat dengan yang lain, demi menumbuhkan rasa toleran, hingga akhirnya dapat menciptakan hubungan yang serasi. Ada dua dimensi yang sangat dibutuhkan untuk dapat mewujudkan cita – cita sosial dalam masyarakat seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. Pertama, da’wah billisan, seperti dalam ayat ö
NçGZä. uöyz >p¨Bé& ôMy_Ì÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ cöqyg÷Ys?ur Ç`tã Ìx6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur ÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #Zöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB cqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ
Ayat ini mengindikasikan bahwa ketentuan kita sebagai umat terbaik adalah dengan mempunyai kriteria tiga sifat ini. ( menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari larangan dan beriman kepada Allah ). Kriteria ini tak dapat diwujudkan jika tanpa dengan lisan. Kedua, da’wah bilfi’li, situasi dan kondisi ini tercermin jika dalam suatu desa atau organisasi kemasyarakatan mempunyai skill mengembangkan swadaya masyarakat. Peran penting selain da’wah billisan ini membawa ajaran Islam dapat dirasakan membumi di bumi ini. Selama ini, da’wah billisan mengajarkan kepada umat bahwa Islam sebagai rahmat untuk seluruh dunia, apalagi bagi pemeluknya. Tetapi, sangat disayangkan rasa kerahmatan itu tak banyak dirasakan menyentuh ke dalam segi – segi kehidupan nyata kaum muslim. Dua dimensi ini bagaikan tali yang saling mengikat. Keduanya harus ada dalam jiwa pribadi muslim, untuk menciptakan sosial yang diharapkan bagi seluruh alam. Keduanya akan merubah masyarakat yang mulanya sangat egois, individual, menjadi masyarakat yang toleran, peduli terhadap sesama. Perubahan ini dapat terlaksana akibat pemahaman dan penghayatan nilai – nilai Al – Qur’an serta kemampuan memanfaatkan dan menyesuaikan diri dengan hukum – hukum sejarah.
Referensi :
Hadad Alwi, Uswatun Hasanah, Hikmah, 2009.
Syihab Quraisy, Lentera Hati, Mizan, 1999.
Syihab Quraisy, Membumikan Al – Qur’an, Mizan Pustaka, 1992.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar