TAFSIR TEMATIK


TAFSIR TEMATIK
“KESUKSESAN” PERSPEKTIF AL-QUR’AN
I.                  PENDAHULUAN
            Sukses adalah hal yang menjadi tujuan setiap manusia dalam menjalani kehidupan. manusia bekerja keras untuk mencapai kesuksesan baik itu di dunia maupun di akhirat. Kesuksesan tentunya tidak hanya terletak dalam dimensi material semata : justru melalui dimensi rohaniyahnyalah manusia akan senantiasa merasakan kebahagiaan dalam mendapatkan kesuksesan. Kesuksesan dalam arti keberuntungan. Tetapi tidak seperti makna biasa
bahwa keberuntungan ini diperoleh karena menjadi hasil kerja keras kita. Keberuntungan bukan dari kebetulan.
            Secara leksiologi, al-falah   ( الفلا ح ) berasal dari lafal  falaha ( فلح )  dengan arti kemenangan( الظفر )  atau memperoleh keinginan ( ادراك بغية ) , selamat dan pencapaian. Falah ini terbagi dua yaitu kesuksesan dalam dunia ( دنيوي )  dan kesuksesan dalam akhirat ( أخروي ) . Dalam  dunia yaitu pencapaian kesenangan yang menyamankan kehidupan yaitu kekekalan sementara, kekayaan dan kemuliaan. Sedangkan kesuksesan akhirat terbagi empat : 1) kekal tidak musnah, kaya tidak fakir, mulia tanpa hina dan ilmu tanpa kebodohan maka dikatakanlah “la aisa illa aisa alhirat”[1].
            Menurut Sayyid Thantawi Alfalah adalah mendapatkan apa yang dimaksud dan tercapainya angan – angan yang bersifat kebaikan disertai dengan kekekalan kebaikan itu.
Sumber kata bahasa Arab ( masdar/infinitive noun ) Al-Falah penulis artikan sukses. Tetapi sukses disini adalah sukses secara rohaniyah dan mungkin dapat menjadi sukses dalam material. Sukses bersifat relative tergantung orang memandang. Namun  dalam kajian ini, penulis menyajikan tema kesuksesan menurut Al-Qur’an bukan menurut individual yang dikhawatirkan akan berlandaskan hawa  nafsu.
          Karena metode dalam penelitian ini adalah metode maudhu'i, maka langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah:
1.      Menetapkan topik yang akan dibahas;
2.      Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan topik;
3.      Menyusun urutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asba@b al-nuzu@l-nya;
4.      Memahami korelasi ayat-ayat tersebut (munasabah);
5.      Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline);
6.      Melengkapi pembahasan dengan H{adi@th-h{adi@th yang relevan;
7.      Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang ‘a@m (umum) dan kha@s} (khusus), mut}laq dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan. [2]
          Sebagai bahan penelitian, peneliti mengacu pada data-data tentang kesuksesan yang terdapat dalam al-Mu'jam al-Mufahraz. Berikut ini tabelnya:

NO.
LAFAZH
JUMLAH
LOKASI
1.
أَفْلَحَ
4
Thaha : 64,  Al-Mukminun : 1-8, A’la : 14, Al-Syams : 9
2.
تُفْلِحُوْا
1
Al-Kahfi 20
3.
تُفْلِحُوْنَ
11
Al-Baqarah : 189, Ali Imran : 130, Ali Imran : 200,
Al-Maidah : 35, Al-Maidah : 90, Al-Maidah : 100,
Al-A’raf : 69, Al-Anfal : 45, Al-Haj : 77, Al-Nur : 31, Al-Jum’at : 10
4
يُفْلِحُوْنَ
2

(116)Al-Nahl  & Yunus : 69
5
المُفْلِحُوْنَ
12
Al-Baqarah : 5, Ali - Imran : 104, Al-A'raf : 8, Al-A'raf : 157, Al-Taubah : 88, Al-Mukminun : 102, Al-Nur : 51, Al-rum : 38, Luqman : 5, Al-Mujadalah : 22, Al-Hasyr : 9, Al-Taghabun : 16
6
المُفْلِحِيْنَ
1
(67) Al-Qashas
7
يُفْلِحُ
9
Al-An'am : 21, Al-An'am : 135, Yunus : 17 &  77, Yusuf : 23, Thaha : 69, Al-Mu'minun : 117, Al-Qashas : 37 & 82

          Adapun langkah-langkah yang akan peneliti tempuh dalam paparan data adalah:  Pertama, untuk mempermudah pembahasan, peneliti mengklasifikasikan ayat-ayat di atas menjadi 3 bagian, yaitu: a) ayat-ayat sukses dalam konteks fi'il madhi; b) ayat-ayat sukses dalam konteks fi'il mudhari'; c) ayat-ayat sukses dalam konteks isim fail dan maf’ul; Kedua, kumpulan ayat-ayat tersebut peneliti analisis dengan metode content analysis  dengan bantuan kitab-kitab tafsir dan penjelasan-penjelasan dalam Hadits. Content analysis seperti ini secara otomatis melibatkan pemahaman tentang asbabun nuzul, munasabah, maupun ketentuan-ketentuan linguistic sebagaimana yang disyaratkan dalam langkah-langkah tafsir maudhu'i di atas.
II.               MATERI KAJIAN
A.           KESUKSESAN DALAM KONTEKS FI'IL MADHI ( أفلح )
Seluruh redaksi sukses dalam konteks fiil madzi yaitu Aflaha selalu disertai dengan kata kesungguhan qad yang berarti pasti akan beruntung, diantaranya :
Ayat pertama ( Thaha : 64 ) menerangkan tentang pembantahan sebagian penyihir kepada yang lain untuk bagaimana cara mengalahkan Musa as. Dan bagaimana tanggapan mereka mengenai ucapan Musa as. Ehingga seluruh penyihir bersepakat menghadapai kedua orang itu yakni Nabi Musa as dan Nabi Harun as. Yang mereka anggap buruk kedua orang itu. Dan akhirnya mereka menyatukan kekuatan dan datang dalam satu barisan. Dengan akhir redaksi bahwa sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini yakni hari pertemuan dan penampilan kebolehan masing – masing.
Dilanjutkan dengan kemenangan Musa melawan raja Firaun dengan dialog dan perlawanan yang cukup sengit sampai Musa merasa ketakutan dan Allah menguatkannya dengan memerintakan untuk melempar tongkatnya lalu Musa menang pada hari itu dan sungguh bahagia orang yang menang  pada hari itu yaitu Musa dengan tunduknya para tukang sihir yang mulanya melawan Musa sedangkan Firaun tetap membangkang.
Ayat kedua  ( Al-Mu’minun : 1-8 ) menjelaskan tentang ciri - ciri orang sukses yaitu :
1.       orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
Secara etimologi khusu’ yaitu tenang dan secara termonologi yaitu perasaan takut dalam hati sehingga menampakkan pengaruh terhadap anggota badannya yang menjadikan ketenangan berada di hadapan tuhan. Demikian lebih kurang Sayyid Thanthawi.
Seterusnya Thantawi menerangkan ciri orang khusyu’ ialah, a) melihat dalam keadaan berdiri kepada tempat sujudnya. B) merasa tenang c ) meninggalkan sesuatu yang akan mengganggu kekhusyuan.
Maka dari itu Imam Ghazali mensaratkan khusyu’ menjadi salah satu sahnya shalat sehingga pendapatnya menjadi suatu kontoversi dengan ulama afiqh yang hanya menyaraktkan khusyu’ ketika takbir saja. Dengan alasan, wajar saja mereka ( ulama fiqh ) tidak masuk dalam hal kebathinan, hati dan akhirat namun mereka hanya membangkitkan ajarang agama dengan anggota badan yang terlihat. Maka beliau pun memberikan resep untuk dapat menghidupkan shalat diantaranya  a ) menghadirkan hati b) memahami makna bacaan c ) mengagunkan d ) merasa takut e ) berharap f ) merasa malu ). [3]
2.       dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
Dikatakan bahwa sesuatu yang tidak membawa pahala itu adalah hal tak berguna. Sehingga Sa’rawi menambahkan kutipan ayat lain  :
{ وَإِذَا مَرُّواْ بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِراماً }[الفرقان: 72]
72. dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
3.       dan orang-orang yang menunaikan zakat,
4.      dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
5.      kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
6.      Barangsiapa mencari yang di balik itu  Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
7.      dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
8.      Orang yang selalu menjaga shalatnya.
Ketika suatu wahyu turun kepada Rasulullah maka beliau mendengar suara seperti lebah lalu para shahabat duduk. Kemudian Nabi menghadap kiblat dan mengangkat tangannya serta berdoa setelah berdoan Nabi berkata bahwa dirinya telah menerima 10 ayat wahyu. Jika ada orang yang melaksanakan wahyu itu maka ia akan masuk surga. Demikian tulis Ibnu Katsir.  
Ayat ketiga ( A’la : 14 ) berkaitan dengan  keterangan orang yang beruntung adalah orang yang membersihkan dirinya dengan selalu mengerjakan kebaikan seperti shadaqah kemudian mengingat Allah dan mengerjakan shalat.
Dalam kitab tafsir Al-Alusi menerangkan bahwa diriwayatkan  dari Ali bahwa yang dimaksud membersihkan adalah mengeluarkan shadaqah ( kurban ) kemudian membaca takbir dan terakhir mengerjakan shalat Idul Adha. Dalam keterangan lain diterangkan bahwa yang dimaksud membersihkan adalah bersih dari syirik dan maksiat. Dalam hal ini Wahbah Zuhaili mengklasifikasikan dengan orang yang suci dari kekufuran, syirik dan maksiat lalu ia selalu mengingat kekuasaan dan keagungan Allah, tidak terpengaruh dengan dunia dengan membawa modal iman dan taqwa.
Ayat keempat (Al-Syams : 9 ) mengenai  orang yang beruntung dengan kriteria seseorang yang bersih hatinya dari perbuatan maksiat dan sifat tercela lainnya dengan mengerjakan ketaatan Allah.
Cukup menarik antara mu’tazilah dan ahl al-sunnah dalam menafsirkan ayat ini. Jika mu’tazilah menyatakan bahwa “kami mengetahui dan mengerti jalan kehidupan, apa itu baik maupun yang buruk”. Sedangkan Ahl – al- sunnah mengatakan bahwa “sungguh beruntung jiwa, yang Allah bersihkan dan sungguh hina, jiwa yang Allah rendahkan”. Ini menampakkan suatu teologi mereka yang berbeda bahwa mu’tazilah mengunggulkan akal dalam melakukan apapun sedangkan ahlu sunnah memakai takdir dalam melaksanakan sesuatu.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari 4 ayat yang membahas tentang kesuksesan dalam konteks fi'il madhi adalah sebagai berikut : 1) bahwa beruntunglah orang yang memenangkan pertarungan pada hari itu, yakni antara Musa as. Dan penyihir bawahan Fir’aun; 2) ciri – ciri orang sukses sebagai berikut :  a) orang – orang yang khusyu’ dalam shalatnya; b) menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna; c) menunaikan zakat; d) menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; e) memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya; f) menjaga shalatnya; g)  selalu membersihkan hatinya dengan melakukan kebaikan; h)  jiwa yang Allah bersihkan.
Dengan criteria terakhir ini ( h ), dapat diketahui bahwa segala hal itu adalah kehendak Allah Swt. walau itu dalam membersihkan hati seseorang atau merendahkannya. Tetapi Allah pun tak akan ingin membersihkan hati ini, jika dari diri sendiri tak ingin membersihkan hati terlebih dahulu. Wallahu A’lam.
  
B.     KESUKSESAN DALAM KONTEKS MUDLARI
1)   Kesuksesan dalam Konteks Fi'il Mudhari' Mukhatab Jama’ ( تفلحوا)
          Kesuksesan dalam Konteks Fi'il Mudhari' Mukhatab Jama’ hanya disebutkan satu kali yang menceritakan Ashhabul – Kahfi. Setelah dibangunkan Allah, mereka ( Ashhabul Kahfi ) saling bertanya, sudah berapa lama mereka tertidur. Ada yang menjawab baru setengah/ satu hari. Dan dijawab sebagai penengah bahwa Tuhanlah yang lebih mengetahui secara pasti. Mereka merasa lapar dan membutuhkan makanan sehingga salah seorang dari mereka menyuruh temannya untuk pergi ke kota mencari makan dan hendaklah orang yang disuruh itu bersikap lemah lembut dan bersembunyi-sembunyi. Karena jika mereka ( penduduk kota ) mengetahui keberadaan ia maka mereka akan merejam atau memaksa ia untuk memeluk agama yang mempersekutukan Allah. Dan jika demikian, yakni jika kamu/ia memeluk agama mereka niscaya kamu tidak akan beruntung selama – lamanya. ( Al-Kahfi 20 ).
          Dalam cerita ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa akidah Islam harus tetap dipertahankan walaupun itu melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi demi mempertahankan akidah Islam. Maka dari itu, suatu kesuksesan dalam hidup jika kita dapat mempertahankan Iman sampai kematian.
2)   Kesuksesan Dalam Konteks Mudlari’ Mukhatab Jama’ ( تفلحون )
Perlu diketahui bahwa tepat sebelum lafal tuflihun itu mayoritas diiringi dengan kata perintah taqwa maka dari itu taqwa adalah pondasi kuat untuk mencapai kesuksesan. Maka penulis akan menerangkan lafal yang termaktub sebelum lafal taqwa tersebut.
1.      ( Al-Baqarah : 189 ) Dalam asbab al-buzul ayat ini diterangkan bahwa ketika ada seorang yang bertanya apa itu Hilal maka turunlah ayat ini. sekaligus menerangkan tentang hikmah kenapa diciptakan hilal. Maka Allah memerintahkan Muhammad untuk menerangkan bahwa adanya hilal untuk menjadi waktu yang manusia dapat membatasi puasa, zakat, haji dan kerjanya dengan waktu itu dan kehidupan lainnya. Dilanjutkan dengan menerangkan suatu kebaikan dengan memasuki rumah di arah pintunya bukan di selainnya.  
2.      ( Ali Imran : 130 ) Selanjutnya Allah melarang untuk tidak melakukan riba secara berlipat ganda karena itu bukan perilaku seorang mukmin. Dalam pengharaman riba ini seperti Allah mengharamkan khamar dalam 4 tahap :
a.       Tahap pertama, di Makkah turun ayat :
وَما آتَيْتُمْ مِنْ رِباً لِيَرْبُوَا فِي أَمْوالِ النَّاسِ ، فَلا يَرْبُوا عِنْدَ اللَّهِ [الروم 30/ 39]
“ dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”
Dan setelahnya, turunlah ayat :
`ÏBur ÏNºtyJrO È@ϨZ9$# É=»uZôãF{$#ur tbräÏ­Gs? çm÷ZÏB #\x6y $»%øÍur $·Z|¡ym 3 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ZptƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷ètƒ ÇÏÐÈ
 67. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar
 terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. ( Al-Nahl ; 67 )
b.       Tahap kedua, Al-Quran bercerita tentang perjalanan kaum yahudi yang melakukan riba padahal Allah telah melarangnya sehingga mereka pun mendapat siksa lalu Allah berfirman :  وَأَخْذِهِمُ الرِّبَوا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ .. «1»  dan setelah itu juga Allah menurunkan ayat :
[النساء 4/ 161] يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ، قُلْ : فِيهِما إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنافِعُ لِلنَّاسِ ، وَإِثْمُهُما أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِما [البقرة 2/ 219] ،
c.       Kemudian Allah melarang riba yang bertambah - tambah sehingga menjadi berlipat – lipat ( Al-Baqarah : 130 )  dan setelahnya turun ayat tentang  larangan Allah untuk mengkonsumsi khamar ketika akan melakukan shalat ( Al-Nisa : 43 ). . 
d.      Dan terakhir Allah menegaskan dengan pasti tentang pengharaman keduanya. Ayat riba (  Al-Baqarah : 278 ) terakhir yang memerintahkan orang beriman untuk meninggalkannya dan ayat khamar yang menunjukkan bahwa dalam keadaan apapun khamar tidak boleh dikonsumsi ( Al-Maidah : 40 ) . Demikian tulis Wahbah Zuhaili.
3.      ( Ali Imran : 200 ) Dalam ayat ketiga ini Allah memerintah untuk :
A.                      sabar : dalam Jalailain diterangkan bahwa sabar itu berada dalam 3 tempat yaitu : a) sabar dalam menjalankan ketaatan, b ) sabar dalam menerima musibah, c) sabar dalam menahan berbuat maksiat.
B.                      Kuatkan kesabaran
C.                      Bersiap siaga dalam menghadapi musuh.
D.                     Bertaqwa kepada allah. Menurut Mutawalli Al-Syarawi bahwa ittaqullah ( takutlah kepada Allah ) sama seperti halnya anda mengatakan takutlah neraka. Dan maksud takut kepada Allah yaitu engkau menjadikan wiqayah berada diantara engkau dan murka tuhanmu. Wiqayah adalah taat. Dan taat adalah melakukan apa yang diperintahkan dan mencegah apa yang dilarang.
4.      ( Al-Maidah : 35 ) dalam hal ini Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk bertakwa kepada Allah, berjuang di jalan-Nya dan bersungguh-sungguh  dalam mencari wasilah ( kebaikan ).
5.      ( Al-Maidah : 90 ) ayat ini terkait dengan pengharaman terakhir Allah – setelah beberapa tahap - untuk  tidak mengkonsumsi barang haram diantaranya ayat ini masih ada kaitannya dengan ayat sebelumnya bahwa allah memerintahkan manusia untuk tidak mengharamkan apa yang sudah Allah halalkan bahkan menyuruh untuk memakan sebagian apa yang telah diberikan dengan kriteria halal dan baik.
Peringatan Allah untuk tidak mengkonsumsi barang haram diantaranya : khamar,  atau minuman yang memabukkan, perjudian ( segala pekerjaan yang  menghasilkan, dengan  cara mengadu nasib secara kebetulan ), berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah[4].
Maksud anak panah disini ( Al Azlaam )  ialah : anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah.
 Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.
6.      ( Al-Maidah : 100 )
Berkaitan dengan dialog Allah dengan Nabi bahwa katakanlah tidaklah sama antara yang buruk dengan yang baik walaupun memang banyak ahli maksiat dan itu menarik hatimu namun orang – orang yang taat itu adalah orang yang beruntung sedangkan orang  ahli maksiat adalah orang yang merugi dan hina di hadapan Allah walau merka banyak.
Bukankah Nabi memohon untuk dikelompokkan menjadi minoritas umat, kelompok yang baik tentunya. Dari redaksi diatas dapat dismipulkan bahwa kita tidak usah heran maupu terkejut dengan banyaknya orang bermaksiat. Tetaplah pada pendirian menuju jalan lurus dan tidak goyah.
7.      ( Al-A’raf : 69 )
ayat keenam ini berkaitan dengan pernyataan tuhan bahwa apakah engkau heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
Perintah untuk selalu mengingat nikmat yang diberikan dan akhirnya agar kita dapat memanfaatkan tidak menyia-nyiakan dengan tujuan agar mendapat keberuntungan.

8.      ( Al-Anfal : 45 )
Dalam hal ini Allah menyuruh untuk berteguh hati dan selalu mengingat Allah ketika orang mumin akan memerangi pasukan musuh. Ini menunjukan bahwa dimanapun dan kapanpun walau itu dalam keadaan akan menghadapi perang dengan kondisi yang mengenagkan Allah tetap memerintah untuk mengingatnya.
9.      ( Al-Haj : 77 )
Disini menerangkan perintah Allah terhadap perintah Allah untuk shalat dan menanati Allah dan melakukan kebaikan. Sehingga menjadi orang yang beruntung.
10.  ( Al-Nur : 31 )
Ini merupakan peringatan untuk seorang wanita agar menjadi orang sukses untuk melakukan berikut :
1.      Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,
2.      janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya,
3.       hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,
4.      janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita,
5.      janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan,
6.      bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman/
11.  ( Al-Jum’at : 10 )  
Ketika waktu shalat datang maka segera untuk menebarkan bumi lalu menari karunia Allah diiringi dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya.
3)      Kesuksesan Dalam Konteks Mudlari’Dhamir Mufrad’ ( يفلح  )
Khusus lafal yuflihu bermakna sukses ini seluruhnya disertai dengan konteks negative ( diiringi dengan huruf nafi’ ) seperti dalam Al-An'am : 21, ayat pertama menjelaskan bahwa orang yang dhalim tidak akan beruntun atau sukses. Kemudian bagaimana makna dhalim?. Dhalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Semisal seharusnya orang lain itu dikasihani dengan rasa kasih sayang namun ia menyakiti. Semiestinya waktu kuliah digunakan belajar ttapi dia bercanda.

 Al-An'am : 135, sama seperti diatas
Yunus : 17 menurut Imam Samarqandi Mujrimun itu adalah orang musyrik. Berarti orang yang menyukutukan Alah itu pasti tidak akan sukses. Walaupun terlihat ia beruntung namun ketika diakhirat ia akan mendapatkan siksa. Maka dari itu sifat syrk harus dihindari.
&  77, mengenai orang sihir
 Yusuf : 23, kembali kepada orang dhalim
 Thaha : 69, dalam makna yuflihu disini yaitu tidak akan menang tukang sihir dari manapun ia datang. Ayat ini bercerita tentan gpertarngan Nabi Musa dengan para tukangsihir bawahan Firaun. Dengan redaksi ini Allah memperteguh Musa bahwa tukang sihir tidak akan menang.
 Al-Mu'minun : 117, tidak beruntungnya orang kafir di akhirat nanti karena mereka tidak beriman walaupun di dunia banyak merkea yang sukses dan beruntung.
 Al-Qashas : 37 oorang dhalim
& 82 orang kafir .
            Cukup menarik kesimpulan kesuksesan yuflihu bahwa semua lafal ini seluruhnya disertai dengan kontksnegatif yang sebaiknya kita tidak termasuk pada criteria :
a.       Orang dhalim
b.      Tukang sihir
c.       Pendosa / orang musyrik
d.      Orang kafir


4)   Kesuksesan Dalam Konteks Mudlari’ Dhamir Jama’ ( يفلحون )

116Al-Nahl  &
Tidak beruntung orang yang mengada ngadakan kebohongan terhadap Allah
Yunus : 69, Lebih mendetail untuk contohnya bahwa tidak diperbolehkan mengatakan apa yang disbeutkan secara dusta seperti ini halal dan inin haram dengan tujuan mengadakan kebhongan terhadap Allah karena mereak tidak aakn beruntung KESUKSESAN DALAM KONTEKS ISIM FAIL ( المفلحون )  
1)                  Muflihun
a.                   Al-Baqarah : 5, menjelaskan kriteria orang beruntung diantaranya orang beriman pada hal ghaib dan melaksanakan shalat lalu memberi sebagian hartanya dan orang yang mempercayai apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan nabi sebelumnya dan meyakini akan adanya akhirat.
Mungkin ini tidak logis jika harus dibuktikan secara teoritis tetapi itu adanya kita tidak dapat memakai rasiao semata untu beragama tetapi diperlukan kepercayaan dari hati.
b.                  Ali - Imran : 104, untuk menjadi umat yang selalu mengajak kepada kebaikan, menyuruh kebaikan dan mencegah hal yang munkar.
c.                   Al-A'raf : 8, ini adalah ayat motivasi yang menjajikan sesiapa yang berta timabanga kebaikannya maka ia termasuk orang beruntung. Maka tidak mungkin timbanagan berat didapatkan dengan rasa malas malasan dalam beribadah.  
d.                  Al-A'raf : 157, orang yang mengikuti nabi, mengajak kebaikan dan melarang kemunkarang lalu menghalalkan apa ang baik dan mengahramakan apa yang buruk itulah mereka orang orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
e.                    Al-Taubah : 88, menceritakna bahwa rasul dan orang beriman bersamanya yang berjihad dengan harta baik jiwa bahwa mereka mendapatkan kebaikan dan termasuk orang sukses di dunia maupun di akhirat
f.                   Al-Mukminun : 102, orag yang berat timbangan kebaiknnya ia termasuk orang beruntung  
g.                  Al-Nur : 51, tentang kepatuhan mukmin ketika dipanggil Allah dan rasulnya dengan mengatakan kami mendengar dan kami patuh   Al-rum : 38, untuk memberikan hak kerabat begitu juga fakir miskin dan ibnu sabil (. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain )  dan perbuatan ini termsuk lebih baik bagi orang orang yang mengaharpkan keridhaan Allah.
h.                  Luqman : 5, bahwa alquran ini diperuntukkan menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang yang berbuat kebaikan yaitu orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mempercayai adanya akhirat.
i.                     Al-Mujadalah : 22, bahwa hizbullah adalah oang yang beruntung dan siapa itu hizbullah  
j.                    Al-Hasyr : 9, sesiapa yang dipelihara dari kekekirin maka ia termasuk orang yang sukses dengan disertaikisah bahwa para anshar adalah orang baik terhadap muhajirin.
k.                  Al-Taghabun : 16 ayat terakhir ini memerintahkan untuk bertakwa sesuai kesanggupan dan mendegarkan llau mematuhinya disertai dengan menfkahi apa yang terbaik kepada dirimu dengan janji bahwa sesiap yang dipelihara dari kekekiran itulah mereka orang yang sukses.

2)      Muflihin  ( المفلحين )
 67) Al-Qashas menjelaskan bahwa orang yang taubat dan beriman lalu melakukan amal shahli maka asa ia termasuk orang yang beruntung.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Sya’rawi Mutawalli, Tafsir Al-Syarawi, ( Akhbar Alyaum ).
Zuhali Wahbah,
Al-Biqai
Al Alusi
Ibnu Katsir
Thantawi Sayyid,
Al-Samarqandi, 


[1] Samih Athif Al Zain, Mu’jam Tafir Mufradat Alfadh AlQur’an, ( Bairut : Dar Alkuub Al Banani, 2001 ), 691
[2] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’a@n (Bandung: Gema Insani, 114-115.
[3] Imam Ghazali, Ihya Ulum Al-Din, hlm 160-161. Lebih jelas baca selengkapnya
[4] Thanthawi, 1359 Vol. 1 Maktabah Syamilah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar