TAFSIR TEMATIK
“KESUKSESAN” PERSPEKTIF AL-QUR’AN
I.
PENDAHULUAN
Sukses adalah hal
yang menjadi tujuan setiap manusia dalam menjalani kehidupan. manusia bekerja
keras untuk mencapai kesuksesan baik itu di dunia maupun di akhirat. Kesuksesan
tentunya tidak hanya terletak dalam dimensi material semata : justru melalui
dimensi rohaniyahnyalah manusia akan senantiasa merasakan kebahagiaan dalam
mendapatkan kesuksesan. Kesuksesan dalam arti keberuntungan. Tetapi tidak
seperti makna biasa
bahwa keberuntungan ini diperoleh karena menjadi hasil
kerja keras kita. Keberuntungan bukan dari kebetulan.
Secara leksiologi,
al-falah ( الفلا
ح ) berasal dari lafal falaha ( فلح ) dengan arti
kemenangan(
الظفر ) atau memperoleh keinginan ( ادراك بغية ) , selamat dan pencapaian. Falah ini terbagi dua yaitu
kesuksesan dalam dunia ( دنيوي ) dan kesuksesan dalam akhirat ( أخروي ) . Dalam dunia yaitu
pencapaian kesenangan yang menyamankan kehidupan yaitu kekekalan sementara,
kekayaan dan kemuliaan. Sedangkan kesuksesan akhirat terbagi empat : 1) kekal
tidak musnah, kaya tidak fakir, mulia tanpa hina dan ilmu tanpa kebodohan maka
dikatakanlah “la aisa illa aisa alhirat”[1].
Menurut Sayyid
Thantawi Alfalah adalah mendapatkan apa yang dimaksud dan tercapainya angan –
angan yang bersifat kebaikan disertai dengan kekekalan kebaikan itu.
Sumber kata bahasa Arab ( masdar/infinitive noun ) Al-Falah
penulis artikan sukses. Tetapi sukses disini adalah sukses secara rohaniyah dan
mungkin dapat menjadi sukses dalam material. Sukses bersifat relative
tergantung orang memandang. Namun dalam
kajian ini, penulis menyajikan tema kesuksesan menurut Al-Qur’an bukan menurut
individual yang dikhawatirkan akan berlandaskan hawa nafsu.
Karena metode dalam penelitian ini
adalah metode maudhu'i, maka langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah:
1.
Menetapkan topik
yang akan dibahas;
2.
Menghimpun
ayat-ayat yang berkaitan dengan topik;
3.
Menyusun urutan
ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asba@b
al-nuzu@l-nya;
4.
Memahami korelasi
ayat-ayat tersebut (munasabah);
5.
Menyusun
pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline);
6.
Melengkapi
pembahasan dengan H{adi@th-h{adi@th yang relevan;
7.
Mempelajari
ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang
mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang ‘a@m
(umum) dan kha@s} (khusus), mut}laq dan muqayyad
(terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga bertemu dalam satu
muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan. [2]
Sebagai
bahan penelitian, peneliti mengacu pada data-data tentang kesuksesan yang
terdapat dalam al-Mu'jam al-Mufahraz. Berikut ini tabelnya:
NO.
|
LAFAZH
|
JUMLAH
|
LOKASI
|
1.
|
أَفْلَحَ
|
4
|
Thaha : 64, Al-Mukminun : 1-8, A’la : 14, Al-Syams : 9
|
2.
|
تُفْلِحُوْا
|
1
|
Al-Kahfi 20
|
3.
|
تُفْلِحُوْنَ
|
11
|
Al-Baqarah
: 189, Ali Imran : 130, Ali Imran : 200,
Al-Maidah
: 35, Al-Maidah : 90, Al-Maidah : 100,
Al-A’raf
: 69, Al-Anfal : 45, Al-Haj : 77, Al-Nur : 31, Al-Jum’at : 10
|
4
|
يُفْلِحُوْنَ
|
2
|
(116)Al-Nahl &
Yunus : 69
|
5
|
المُفْلِحُوْنَ
|
12
|
Al-Baqarah : 5, Ali - Imran : 104,
Al-A'raf : 8, Al-A'raf : 157, Al-Taubah : 88, Al-Mukminun : 102, Al-Nur : 51,
Al-rum : 38, Luqman : 5, Al-Mujadalah : 22, Al-Hasyr : 9, Al-Taghabun : 16
|
6
|
المُفْلِحِيْنَ
|
1
|
(67) Al-Qashas
|
7
|
يُفْلِحُ
|
9
|
Al-An'am
: 21, Al-An'am : 135, Yunus : 17 &
77, Yusuf : 23, Thaha : 69, Al-Mu'minun : 117, Al-Qashas : 37 & 82
|
Adapun langkah-langkah yang akan
peneliti tempuh dalam paparan data adalah:
Pertama, untuk mempermudah pembahasan, peneliti
mengklasifikasikan ayat-ayat di atas menjadi 3 bagian, yaitu: a) ayat-ayat sukses
dalam konteks fi'il madhi; b) ayat-ayat sukses dalam konteks fi'il
mudhari'; c) ayat-ayat sukses dalam konteks isim fail dan maf’ul; Kedua,
kumpulan ayat-ayat tersebut peneliti analisis dengan metode content analysis dengan bantuan kitab-kitab tafsir dan
penjelasan-penjelasan dalam Hadits. Content analysis seperti ini secara
otomatis melibatkan pemahaman tentang asbabun nuzul, munasabah, maupun
ketentuan-ketentuan linguistic sebagaimana yang disyaratkan dalam langkah-langkah
tafsir maudhu'i di atas.
II.
MATERI
KAJIAN
A.
KESUKSESAN DALAM
KONTEKS FI'IL MADHI ( أفلح )
Seluruh redaksi sukses dalam konteks fiil
madzi yaitu Aflaha selalu disertai dengan kata kesungguhan qad yang
berarti pasti akan beruntung, diantaranya :
Ayat pertama ( Thaha : 64 ) menerangkan
tentang pembantahan sebagian penyihir kepada yang lain untuk bagaimana cara
mengalahkan Musa as. Dan bagaimana tanggapan mereka mengenai ucapan Musa as.
Ehingga seluruh penyihir bersepakat menghadapai kedua orang itu yakni Nabi Musa
as dan Nabi Harun as. Yang mereka anggap buruk kedua orang itu. Dan akhirnya
mereka menyatukan kekuatan dan datang dalam satu barisan. Dengan akhir redaksi
bahwa sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini yakni hari
pertemuan dan penampilan kebolehan masing – masing.
Dilanjutkan dengan kemenangan Musa melawan
raja Firaun dengan dialog dan perlawanan yang cukup sengit sampai Musa merasa
ketakutan dan Allah menguatkannya dengan memerintakan untuk melempar tongkatnya
lalu Musa menang pada hari itu dan sungguh bahagia orang yang menang pada hari itu yaitu Musa dengan tunduknya para
tukang sihir yang mulanya melawan Musa sedangkan Firaun tetap membangkang.
Ayat kedua ( Al-Mu’minun :
1-8 ) menjelaskan tentang ciri - ciri orang sukses yaitu :
1.
orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
Secara
etimologi khusu’ yaitu tenang dan secara termonologi yaitu perasaan takut dalam
hati sehingga menampakkan pengaruh terhadap anggota badannya yang menjadikan
ketenangan berada di hadapan tuhan. Demikian lebih kurang Sayyid Thanthawi.
Seterusnya
Thantawi menerangkan ciri orang khusyu’ ialah, a) melihat dalam keadaan berdiri
kepada tempat sujudnya. B) merasa tenang c ) meninggalkan sesuatu yang akan
mengganggu kekhusyuan.
Maka dari itu Imam Ghazali mensaratkan khusyu’ menjadi salah satu
sahnya shalat sehingga pendapatnya menjadi suatu kontoversi dengan ulama afiqh
yang hanya menyaraktkan khusyu’ ketika takbir saja. Dengan alasan, wajar saja
mereka ( ulama fiqh ) tidak masuk dalam hal kebathinan, hati dan akhirat namun
mereka hanya membangkitkan ajarang agama dengan anggota badan yang terlihat.
Maka beliau pun memberikan resep untuk dapat menghidupkan shalat
diantaranya a ) menghadirkan hati b)
memahami makna bacaan c ) mengagunkan d ) merasa takut e ) berharap f ) merasa
malu ). [3]
2.
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari
(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
Dikatakan bahwa sesuatu yang tidak membawa pahala itu adalah hal
tak berguna. Sehingga Sa’rawi menambahkan kutipan ayat lain :
{
وَإِذَا مَرُّواْ بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِراماً }[الفرقان: 72]
72. dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga
kehormatan dirinya.
3.
dan orang-orang yang menunaikan zakat,
4.
dan
orang-orang yang menjaga kemaluannya,
5.
kecuali
terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki Maka Sesungguhnya
mereka dalam hal ini tiada terceIa.
6.
Barangsiapa
mencari yang di balik itu Maka mereka
Itulah orang-orang yang melampaui batas.
7.
dan
orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
8.
Orang
yang selalu menjaga shalatnya.
Ketika
suatu wahyu turun kepada Rasulullah maka beliau mendengar suara seperti lebah
lalu para shahabat duduk. Kemudian Nabi menghadap kiblat dan mengangkat tangannya
serta berdoa setelah berdoan Nabi berkata bahwa dirinya telah menerima 10 ayat
wahyu. Jika ada orang yang melaksanakan wahyu itu maka ia akan masuk surga.
Demikian tulis Ibnu Katsir.
Ayat
ketiga ( A’la : 14 ) berkaitan dengan keterangan orang yang beruntung adalah orang
yang membersihkan dirinya dengan selalu mengerjakan kebaikan seperti shadaqah
kemudian mengingat Allah dan mengerjakan shalat.
Dalam
kitab tafsir Al-Alusi menerangkan bahwa diriwayatkan dari Ali bahwa yang dimaksud membersihkan
adalah mengeluarkan shadaqah ( kurban ) kemudian membaca takbir dan terakhir
mengerjakan shalat Idul Adha. Dalam keterangan lain diterangkan bahwa yang
dimaksud membersihkan adalah bersih dari syirik dan maksiat. Dalam hal ini
Wahbah Zuhaili mengklasifikasikan dengan orang yang suci dari kekufuran, syirik
dan maksiat lalu ia selalu mengingat kekuasaan dan keagungan Allah, tidak
terpengaruh dengan dunia dengan membawa modal iman dan taqwa.
Ayat
keempat (Al-Syams : 9 ) mengenai orang
yang beruntung dengan kriteria seseorang yang bersih hatinya dari perbuatan
maksiat dan sifat tercela lainnya dengan mengerjakan ketaatan Allah.
Cukup
menarik antara mu’tazilah dan ahl al-sunnah dalam menafsirkan ayat ini. Jika mu’tazilah
menyatakan bahwa “kami mengetahui dan mengerti jalan kehidupan, apa itu baik
maupun yang buruk”. Sedangkan Ahl – al- sunnah mengatakan bahwa “sungguh
beruntung jiwa, yang Allah bersihkan dan sungguh hina, jiwa yang Allah
rendahkan”. Ini menampakkan suatu teologi mereka yang berbeda bahwa mu’tazilah
mengunggulkan akal dalam melakukan apapun sedangkan ahlu sunnah memakai takdir
dalam melaksanakan sesuatu.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari 4 ayat yang membahas
tentang kesuksesan dalam konteks fi'il madhi adalah sebagai berikut : 1) bahwa beruntunglah orang yang memenangkan
pertarungan pada hari itu, yakni antara Musa as. Dan penyihir bawahan Fir’aun;
2) ciri – ciri orang sukses sebagai berikut : a) orang – orang yang khusyu’ dalam shalatnya;
b) menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna; c)
menunaikan zakat; d) menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka
atau budak yang mereka miliki; e) memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya)
dan janjinya; f) menjaga shalatnya; g)
selalu membersihkan hatinya dengan melakukan kebaikan; h) jiwa yang Allah bersihkan.
Dengan
criteria terakhir ini ( h ), dapat diketahui bahwa segala hal itu adalah
kehendak Allah Swt. walau itu dalam membersihkan hati seseorang atau merendahkannya.
Tetapi Allah pun tak akan ingin membersihkan hati ini, jika dari diri sendiri
tak ingin membersihkan hati terlebih dahulu. Wallahu A’lam.
B.
KESUKSESAN
DALAM KONTEKS MUDLARI
1)
Kesuksesan dalam Konteks Fi'il Mudhari' Mukhatab Jama’
( تفلحوا)
Kesuksesan dalam Konteks Fi'il Mudhari' Mukhatab Jama’
hanya disebutkan satu kali yang menceritakan Ashhabul – Kahfi. Setelah
dibangunkan Allah, mereka ( Ashhabul Kahfi ) saling bertanya, sudah berapa lama
mereka tertidur. Ada yang menjawab baru setengah/ satu hari. Dan dijawab sebagai
penengah bahwa Tuhanlah yang lebih mengetahui secara pasti. Mereka merasa lapar
dan membutuhkan makanan sehingga salah seorang dari mereka menyuruh temannya
untuk pergi ke kota mencari makan dan hendaklah orang yang disuruh itu bersikap
lemah lembut dan bersembunyi-sembunyi. Karena jika mereka ( penduduk kota )
mengetahui keberadaan ia maka mereka akan merejam atau memaksa ia untuk memeluk
agama yang mempersekutukan Allah. Dan jika demikian, yakni jika kamu/ia memeluk
agama mereka niscaya kamu tidak akan beruntung selama – lamanya. ( Al-Kahfi 20 ).
Dalam
cerita ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa akidah Islam harus tetap
dipertahankan walaupun itu melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi demi
mempertahankan akidah Islam. Maka dari itu, suatu kesuksesan dalam hidup jika
kita dapat mempertahankan Iman sampai kematian.
2)
Kesuksesan Dalam Konteks Mudlari’ Mukhatab Jama’ ( تفلحون )
Perlu diketahui bahwa tepat sebelum lafal tuflihun itu mayoritas
diiringi dengan kata perintah taqwa maka dari itu taqwa adalah pondasi kuat
untuk mencapai kesuksesan. Maka penulis akan menerangkan lafal yang termaktub
sebelum lafal taqwa tersebut.
1.
(
Al-Baqarah : 189 ) Dalam asbab al-buzul ayat ini diterangkan bahwa
ketika ada seorang yang bertanya apa itu Hilal maka turunlah ayat ini. sekaligus
menerangkan tentang hikmah kenapa diciptakan hilal. Maka Allah memerintahkan
Muhammad untuk menerangkan bahwa adanya hilal untuk menjadi waktu yang manusia
dapat membatasi puasa, zakat, haji dan kerjanya dengan waktu itu dan kehidupan
lainnya. Dilanjutkan dengan menerangkan suatu kebaikan dengan memasuki rumah di
arah pintunya bukan di selainnya.
2.
(
Ali Imran : 130 ) Selanjutnya Allah melarang untuk tidak melakukan riba secara
berlipat ganda karena itu bukan perilaku seorang mukmin. Dalam pengharaman riba
ini seperti Allah mengharamkan khamar dalam 4 tahap :
a. Tahap pertama, di Makkah turun
ayat :
وَما آتَيْتُمْ مِنْ رِباً
لِيَرْبُوَا فِي أَمْوالِ النَّاسِ ، فَلا يَرْبُوا عِنْدَ اللَّهِ [الروم 30/ 39]
“ dan apa yang kamu berikan berupa
zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat
demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”
Dan setelahnya, turunlah ayat :
`ÏBur ÏNºtyJrO È@ϨZ9$# É=»uZôãF{$#ur tbräÏGs? çm÷ZÏB #\x6y $»%øÍur $·Z|¡ym 3 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºs ZptUy 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷èt ÇÏÐÈ
67. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang
memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu
benar-benar
terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang
yang memikirkan. ( Al-Nahl ; 67 )
b. Tahap kedua, Al-Quran bercerita tentang
perjalanan kaum yahudi yang melakukan riba padahal Allah telah melarangnya
sehingga mereka pun mendapat siksa lalu Allah berfirman : وَأَخْذِهِمُ الرِّبَوا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ ..
«1» dan setelah itu juga Allah menurunkan ayat :
[النساء 4/
161] يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ، قُلْ : فِيهِما إِثْمٌ كَبِيرٌ
وَمَنافِعُ لِلنَّاسِ ، وَإِثْمُهُما أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِما [البقرة 2/ 219] ،
c. Kemudian Allah melarang riba yang
bertambah - tambah sehingga menjadi berlipat – lipat ( Al-Baqarah : 130 ) dan setelahnya turun ayat tentang larangan Allah untuk mengkonsumsi khamar
ketika akan melakukan shalat ( Al-Nisa : 43 ). .
d. Dan terakhir Allah menegaskan
dengan pasti tentang pengharaman keduanya. Ayat riba ( Al-Baqarah : 278 ) terakhir yang memerintahkan
orang beriman untuk meninggalkannya dan ayat khamar yang menunjukkan bahwa
dalam keadaan apapun khamar tidak boleh dikonsumsi ( Al-Maidah : 40 ) .
Demikian tulis Wahbah Zuhaili.
3.
(
Ali Imran : 200 ) Dalam ayat ketiga ini Allah memerintah untuk :
A.
sabar : dalam Jalailain diterangkan bahwa
sabar itu berada dalam 3 tempat yaitu : a) sabar dalam menjalankan ketaatan, b
) sabar dalam menerima musibah, c) sabar dalam menahan berbuat maksiat.
B.
Kuatkan
kesabaran
C.
Bersiap
siaga dalam menghadapi musuh.
D.
Bertaqwa
kepada allah. Menurut Mutawalli Al-Syarawi bahwa ittaqullah ( takutlah
kepada Allah ) sama seperti halnya anda mengatakan takutlah neraka. Dan maksud
takut kepada Allah yaitu engkau menjadikan wiqayah berada diantara
engkau dan murka tuhanmu. Wiqayah adalah taat. Dan taat adalah melakukan apa
yang diperintahkan dan mencegah apa yang dilarang.
4.
(
Al-Maidah : 35 ) dalam hal ini Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk bertakwa
kepada Allah, berjuang di jalan-Nya dan bersungguh-sungguh dalam mencari wasilah ( kebaikan ).
5.
(
Al-Maidah : 90 ) ayat ini terkait dengan pengharaman terakhir Allah – setelah
beberapa tahap - untuk tidak mengkonsumsi
barang haram diantaranya ayat
ini masih ada kaitannya dengan ayat sebelumnya bahwa allah memerintahkan
manusia untuk tidak mengharamkan apa yang sudah Allah halalkan bahkan menyuruh
untuk memakan sebagian apa yang telah diberikan dengan kriteria halal dan baik.
Peringatan Allah untuk tidak
mengkonsumsi barang haram diantaranya : khamar, atau minuman yang memabukkan, perjudian (
segala pekerjaan yang menghasilkan,
dengan cara mengadu nasib secara
kebetulan ), berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah[4].
Maksud
anak panah disini ( Al Azlaam ) ialah
: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah
yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu
perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang
belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah,
jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan
dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah.
Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka
mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu.
Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu,
sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak
panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.
6.
(
Al-Maidah : 100 )
Berkaitan
dengan dialog Allah dengan Nabi bahwa katakanlah tidaklah sama antara yang
buruk dengan yang baik walaupun memang banyak ahli maksiat dan itu menarik
hatimu namun orang – orang yang taat itu adalah orang yang beruntung sedangkan orang
ahli maksiat adalah orang yang merugi
dan hina di hadapan Allah walau merka banyak.
Bukankah
Nabi memohon untuk dikelompokkan menjadi minoritas umat, kelompok yang baik
tentunya. Dari redaksi diatas dapat dismipulkan bahwa kita tidak usah heran
maupu terkejut dengan banyaknya orang bermaksiat. Tetaplah pada pendirian
menuju jalan lurus dan tidak goyah.
7.
(
Al-A’raf : 69 )
ayat keenam ini berkaitan dengan pernyataan
tuhan bahwa apakah engkau heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu
yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan
kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu
sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan
Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu).
Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
Perintah untuk selalu mengingat nikmat yang
diberikan dan akhirnya agar kita dapat memanfaatkan tidak menyia-nyiakan dengan
tujuan agar mendapat keberuntungan.
8.
(
Al-Anfal : 45 )
Dalam
hal ini Allah menyuruh untuk berteguh hati dan selalu mengingat Allah ketika
orang mumin akan memerangi pasukan musuh. Ini menunjukan bahwa dimanapun dan
kapanpun walau itu dalam keadaan akan menghadapi perang dengan kondisi yang
mengenagkan Allah tetap memerintah untuk mengingatnya.
9.
(
Al-Haj : 77 )
Disini
menerangkan perintah Allah terhadap perintah Allah untuk shalat dan menanati
Allah dan melakukan kebaikan. Sehingga menjadi orang yang beruntung.
10.
(
Al-Nur : 31 )
Ini
merupakan peringatan untuk seorang wanita agar menjadi orang sukses untuk
melakukan berikut :
1.
Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,
2.
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya,
3.
hendaklah mereka
menutupkan kain kudung kedadanya,
4.
janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami
mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka,
atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita,
5.
janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan,
11.
(
Al-Jum’at : 10 )
Ketika
waktu shalat datang maka segera untuk menebarkan bumi lalu menari karunia Allah
diiringi dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya.
3)
Kesuksesan Dalam Konteks Mudlari’Dhamir Mufrad’ ( يفلح )
Khusus lafal yuflihu bermakna sukses
ini seluruhnya disertai dengan konteks negative ( diiringi dengan huruf nafi’ )
seperti dalam Al-An'am : 21, ayat pertama menjelaskan bahwa orang yang dhalim
tidak akan beruntun atau sukses. Kemudian bagaimana makna dhalim?. Dhalim
adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Semisal seharusnya orang lain
itu dikasihani dengan rasa kasih sayang namun ia menyakiti. Semiestinya waktu
kuliah digunakan belajar ttapi dia bercanda.
Al-An'am : 135, sama seperti diatas
Yunus : 17 menurut Imam Samarqandi
Mujrimun itu adalah orang musyrik. Berarti orang yang menyukutukan Alah itu
pasti tidak akan sukses. Walaupun terlihat ia beruntung namun ketika diakhirat
ia akan mendapatkan siksa. Maka dari itu sifat syrk harus dihindari.
& 77, mengenai orang sihir
Yusuf : 23, kembali kepada orang dhalim
Thaha : 69, dalam makna yuflihu disini yaitu
tidak akan menang tukang sihir dari manapun ia datang. Ayat ini bercerita
tentan gpertarngan Nabi Musa dengan para tukangsihir bawahan Firaun. Dengan
redaksi ini Allah memperteguh Musa bahwa tukang sihir tidak akan menang.
Al-Mu'minun : 117, tidak beruntungnya orang
kafir di akhirat nanti karena mereka tidak beriman walaupun di dunia banyak
merkea yang sukses dan beruntung.
Al-Qashas : 37 oorang dhalim
& 82 orang kafir .
Cukup
menarik kesimpulan kesuksesan yuflihu bahwa semua lafal ini seluruhnya disertai
dengan kontksnegatif yang sebaiknya kita tidak termasuk pada criteria :
a.
Orang dhalim
b.
Tukang sihir
c.
Pendosa / orang musyrik
d.
Orang kafir
4)
Kesuksesan Dalam Konteks Mudlari’ Dhamir Jama’ ( يفلحون )
116Al-Nahl &
Tidak
beruntung orang yang mengada ngadakan kebohongan terhadap Allah
Yunus : 69, Lebih mendetail untuk contohnya
bahwa tidak diperbolehkan mengatakan apa yang disbeutkan secara dusta seperti
ini halal dan inin haram dengan tujuan mengadakan kebhongan terhadap Allah
karena mereak tidak aakn beruntung KESUKSESAN
DALAM KONTEKS ISIM FAIL ( المفلحون )
1)
Muflihun
a.
Al-Baqarah : 5,
menjelaskan kriteria orang beruntung diantaranya orang beriman pada hal ghaib
dan melaksanakan shalat lalu memberi sebagian hartanya dan orang yang
mempercayai apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan nabi sebelumnya dan
meyakini akan adanya akhirat.
Mungkin ini tidak logis jika harus
dibuktikan secara teoritis tetapi itu adanya kita tidak dapat memakai rasiao
semata untu beragama tetapi diperlukan kepercayaan dari hati.
b.
Ali - Imran :
104, untuk menjadi umat yang selalu mengajak kepada kebaikan, menyuruh kebaikan
dan mencegah hal yang munkar.
c.
Al-A'raf : 8,
ini adalah ayat motivasi yang menjajikan sesiapa yang berta timabanga
kebaikannya maka ia termasuk orang beruntung. Maka tidak mungkin timbanagan
berat didapatkan dengan rasa malas malasan dalam beribadah.
d.
Al-A'raf : 157,
orang yang mengikuti nabi, mengajak kebaikan dan melarang kemunkarang lalu
menghalalkan apa ang baik dan mengahramakan apa yang buruk itulah mereka orang
orang yang beriman
kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang
diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
e.
Al-Taubah : 88, menceritakna bahwa rasul dan
orang beriman bersamanya yang berjihad dengan harta baik jiwa bahwa mereka
mendapatkan kebaikan dan termasuk orang sukses di dunia maupun di akhirat
f.
Al-Mukminun :
102, orag yang berat timbangan kebaiknnya ia termasuk orang beruntung
g.
Al-Nur : 51,
tentang kepatuhan mukmin ketika dipanggil Allah dan rasulnya dengan mengatakan
kami mendengar dan kami patuh Al-rum : 38, untuk memberikan hak kerabat
begitu juga fakir miskin dan ibnu sabil (. Pada jalan Allah (sabilillah):
yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin
ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga
kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan
lain-lain ) dan
perbuatan ini termsuk lebih baik bagi orang orang yang mengaharpkan keridhaan
Allah.
h.
Luqman : 5, bahwa
alquran ini diperuntukkan menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang yang berbuat
kebaikan yaitu orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mempercayai
adanya akhirat.
i.
Al-Mujadalah : 22, bahwa hizbullah adalah oang
yang beruntung dan siapa itu hizbullah
j.
Al-Hasyr : 9,
sesiapa yang dipelihara dari kekekirin maka ia termasuk orang yang sukses
dengan disertaikisah bahwa para anshar adalah orang baik terhadap muhajirin.
k.
Al-Taghabun :
16 ayat terakhir ini memerintahkan untuk bertakwa sesuai kesanggupan dan
mendegarkan llau mematuhinya disertai dengan menfkahi apa yang terbaik kepada
dirimu dengan janji bahwa sesiap yang dipelihara dari kekekiran itulah mereka
orang yang sukses.
2)
Muflihin ( المفلحين )
67) Al-Qashas menjelaskan
bahwa orang yang taubat dan beriman lalu melakukan amal shahli maka asa ia
termasuk orang yang beruntung.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Sya’rawi Mutawalli, Tafsir Al-Syarawi, ( Akhbar Alyaum ).
Zuhali Wahbah,
Al-Biqai
Al Alusi
Ibnu Katsir
Thantawi Sayyid,
Al-Samarqandi,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar