Sabtu, 25 Juni 2011

Masjid Tan’im Saksi Bisu Kepergian Ruyati



HL | 25 June 2011 | 00:021553 99  15 dari 16 Kompasianer menilai aktual

13089557271932973998
Masjid tanim menjelang magrib (a.saukani)
Pagi itu saya terima telepon dari seorang teman “Ada berita nih!”. Teman saya mengabarkan kalau hari itu akan ada eksekusi Qishas dan sedang dilakukan persiapan, tapi belum diketahui Pria ataukah Wanita dan dari kebangsaan mana yang akan dieksekusi. Sementara saya sudah diperjalanan kelapangan yang cukup jauh di luar kota Mekkah. Dan entah kenapa, saya sama sekali tidak berminat. Baru sore harinya saya ketahui ternyata yang dieksekusi adalah seorang wanita WNI. Syukur saya tidak menyaksikannya.

Ads  

Sudah sangat lama sejak perluasan Masjidil Haram tahap awal, eksekusi Qishas tidak pernah lagi dilaksanakan di pelataran Masjidil Haram. Eksekusi dialihkan di pelataran Masjid Tan’im, atau biasa juga disebut Masjid Aisyah
Eksekusi biasanya dilaksanakan dipelataran Masjid Tan’im yang cukup luas yang berbatasan dengan Kantor Perusahaan Listrik Saudi (SEC, Saudi Electric Company). Pelataran ini sehari-harinya biasa dipakai parkir kendaraan orang yang berkunjung ke Masjid Tan’im, tapi lebih banyak kendaraan pekerja SEC yang parkir disitu. Kalau akan ada eksekusi biasanya pagi-pagi polisi sudah melarang orang memarkir kendaraannya disitu. Pelataran dikosongkan dan terus dijaga polisi sampai usai.
Pada waktu eksekusi hanya ada disitu mobil Ambulance, mobil tahanan, mobil polisi dan mobil pemadam kebakaran. Polisi akan membuat pagar betis, sementara khalayak boleh menyaksikan dibelakang pagar betis polisi. Demikian pula suasana ketika Ruyati menjalani eksekusi.
Sekitar jam sepuluh pagi itu dibawah sinar mata hari yang mulai menyengat seseorang membacakan keputusan pengadilan. Siapa terhukum, siapa korban dari kebangsaan mana dan apa kasusnya. Begitu selesai pembacaan keputusan pengadilan Algojo pun bertindak.
Sirine Ambulans meraung-raung lansung membawa mayat tereksekusi. Anggota pasukan pemadam kebakaran langsung membersihkan ceceran darah tereksekusi. Masjid Tan’im yang Megah menjadi saksi bisu dari peristiwa itu.
Selamat jalan Bu Ruyati, Anda mendapat tempat yang mulia di sisi Allah.

Senin, 20 Juni 2011

My Life !!!


            Aku tidak menyangka bisa bertempat tinggal atau mesantren di daerah jawa seperti di daerah malang dan jepara. Di mulai dari aku bersekolah di sekolah dasar Cimanganten 2 – 4 tetapi aku tidak sampai menyelesaikannya hanya sampai lulus kelas empat dalam arti kelas lima aku langsung di pesanternkan di jepara. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak sampai selesai saja SD nya dan aku tanyakan kepada orang tuaku tetapi mereka juga tidak mengetahuinya.
            15 Juli 2005 hari jum’at  aku menjadi santri di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati. Ketika pertama aku di sana aku tak mengerti mau belajar apa disana. Setelah waktu jarak yang cukup lama aku baru mengerti aku sedang mempelajari ilmu Nahwu yang katanya banyak orang membuat ngilu dan Ilmu sharaf yang menegangkan Sharaf. Tetapi dengan Amtsilati aku bisa menyangkal perkataan orang banyak itu, ternyata Nahwu dan Sharaf adalah pelajaran yang menyenangkan.
Singkatnya Alhamdulillah, dengan rahmat Allah aku bisa menyelesaikan program studi Pasca Amtsilati pada tanggal 24 Februari 2010. Tetapi belum selesai sudah perjuanganku aku terpaksa tidak pulang ke rumah dahulu walaupun sebagai wisudawan Pasca baru karena masih ada Ujian Akhir SMP. Wah ,,,,,,, memang harus dobel nich,,,, tidak disangka walaupun nilai ujianku bisa dikatakan pas – pasan tetapi aku bisa mendapatkan kenangan Piagam Siswa Berprestasi karena aku memenangkan Lomba Baca Kitab Kuning Se – Jepara… itu semua karena Rahmat Allah. Semoga dengan rasa syukur ini Allah selalu menambahkan nikmat yang diberikan kepadaku. Amiiiiin..
Aku berkeinginan untuk melanjutkan SMK sambil mondok di Jawa Timur. Dan tidak disangka lagi aku sekolah tidak hanya di SMK malah langsung STAIMA ( Sekolah Tinggi Agama Islam ) Malang. Sebenarnya aku tidak berfikir sampai jauh Sekolah Tinggi atau bahasa gaulnya kuliah, karena dari factor umur aku masih muda untuk kuliah. Tetapi ya kalau bahasa kasarnya itung – itung hemat duit dan hemat waktu. Ya aku akhirnya menentukan lanjutan pendidikanku di STAIMA Malang.    
Sekarang aku adalah mahasiswa STAIMA Al – Hikam Malang, kutuliskan goretan pena ini pada malam Rabu tanggal 19 September 2010 ketika aku belajar Komputer bersama teman – teman.
Aku lanjutkan tulisan tinta di tanggal  satu Muharram 1432 hari selasa malam. Hari demi hari kulewati tak terasa sudah datang akhir bulan desember dan tak terasa hijriah sudah berganti tahun, semakin lama manusia semakin mendekati ajalnya, bertambah hari berkurang umur, waktu terus berputar dunia semakin tua tuk menanggung dosa manusia yang tak henti mengalir sampai bumi tak tahan menahan gesekan lapisan tanah, langit tak tahan menahan getaran frekuensinya, laut ingin memuntahkan airnya ke daratan, gunung tak tahan menahan lahar panasnya, dan akhirnya jika alam sudah tak bisa menahan lagi apa yang ada di dalamnya maka kiamat telah datang. Hanya orang yang beriman dan beramal shaleh yang akan menahan itu semua sehingga kiamat akan terus tertunda sampai para kekasih Allah sudah tidak berpijak di tanah bumi ini. Mari di zaman yang penuh lumpur dosa ini kita semua bisa  bersabar menghadapi pahitnya kehidupan dan meraih manisnya tidur selamanya setelah berjuang memperjuangkan agama Islam.
Bukankah kebahagian yang kita harapkan tuk mendapatkan ridlo sang ilahi dimanapun, kapanpun, kita berharap kebahagian, ketenangan, kesucian, keteladan, kesadaran, semua yang bersifat positive. Walaupun masih ada tinta hitam atau sifat negative yang di kertas putih tapi kita tidak lupa membersihkannya dalam artian jika engkau melakukan kejelekan maka lakukanlah kebaikan setelahnya maka kebaikan itu akan menghilangkan kejelekannya.
Di tahun baru hijriah ini mari tingkatkan ketaqwaan ibadah kepada sang ilahi rabbi dengan lebih giat dalam shalat jamaah, membaca qur’an, sekaligus memaknai, menafsiri, menghayati, dan mengamalkannya maka kita akan menjadi insan qur’ani yang selalu dalam naungan rahmat – nya.         

Menghidupkan Ajaran Rasul


Bulan  mulia yang penuh rahmat dimana Sang Penerang ajaran Islam lahir. Alangkah indahnya jika kita dapat memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini dengan melakukan sesuatu yang positive bukannya

Dunia bagaikan WC ???

                Aku tak tahu harus berbuat apa. Memikirkan apa yang telah dikerjakan oleh orang non Muslim. Merenungkan sesuatu yang non muslim inovasi untuk dunia. Mungkin inikah dari kemunduran orang muslim dibanding bangsa lain. Atau ini suatu kemajuan yang didapat muslim dunia terutama Indonesia. Aku tak tahu itu.
                Contoh kecil saja seperti software atau hardware yang kita gunakan. Misalya program-program  untuk menulis, membantu mengerjakan tugas, membuat surat, dan hal lainnya. Apalagi kalau kita berbicara tentang internet. Banyak orang sukses dengan membuat inovasi baru disana disertai dengan hal positif. Dari sekian persen mungkin hanya beberapa muslim yang ikut serta dalam menuliskan sejarah.
                Aku bukan meremehan muslim karena aku juga seorang muslim. Aku tahu bahwa masa lalu adalah masa gemilang yang didapat muslim. Seperti kebangkitan muslim di Spanyol dan Negara eropa lainnya. Atau para sejarawan muslim para ulama yang memenuhi khazanah keislamaan dengan tulisannya. Ya, itu masa lalu. Apakah kita akan kembali ke masa lalu dan apakah bisa ?
                Jika dapat memilih dan bisa untuk memlih aku akan kembali ke  masa lalu dan meninggalkan dunia masa ini. Tapi sayangnya, waktu tak dapat digapai lagi kecuali masa depan dan sekarang. Aku sudah muak dan tak tahan melihat dunia ini.
                Mungkin benar maqalah salah satu guruku “Biarkan saja orang kafir yang memikirkan dunia dengan mengembangkan tekhnologi dan ilmu pengtahuan yang lain dan kita sebagai muslim dapat focus berbekal nanti di akhirat”.
                Aku berfikir tentang maqalah itu benar juga. Kita tak usah memikirkan jauh – jauh tentang dunia misalnya seperti internet tekhnologi dan lainnya. Kita cukup merenung di kamar sendiri dan membaca qur’an kemudian diiringi dzikir, shalat. Malam shalat dan pagi berpuasa.
                Tapi beberapa hari kemudian aku berfikir bukan itu yang dimaksud. Muslim harus ikut berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains. Terutama tekhnologi yang sedang berkembang melejit dan pesat. Ikut menyumbangkan apa yang dimiliki untuk dunia. Apapun itu.
                Makusdnya adalah muslim tidak terpenjara dengan hanya memikirkan dunia saja. Tapi dalam peranan itu kita dapat mengembangkan tekhnologi denga tujuan amal akhirat.  Tidak sampai terlarut dalam kedunian yang menjadikan kita sebagai orang yang Hedonisme dan Sekularisme. Perilaku itu yang dikwatirkan para ulama masa lalu dan sekarang. Masyarakat  yang terlalu cinta kepada dunia sampai melupakan tujuan akhir dari kehidupan.
                Aku teringat kembali dengan dawuh kyiai Taufiq “Dunia tak usah dicintai, dunia ini hanya menjadi kebutuhan kita bagaikan WC”. Ya, bagaikan WC yang kita pastinya tak akan pernah mencintainya kecuali orang yang abnormal. Pada WC kita hanya butuh bukan cinta. Mungkin kita akan mengelak jika mencintai WC dan memang itu adanya.
Tapi jika dunia. Begitu pintarnya dunia menipu diri kita untuk selalu mencintainya. Seperti yang dikatakan tadi, bahwa kita hanya cukup sebatas membutuhkan dunia saja. Tidak sampai mencintai.
Bagaimana tidak ? anda dan mungkin penulis  ketika mendengar adzan maka kita membiarkan dan hanya menjadikan itu sebagai suara lewat saja tidak menggubrisnya. Kita tetap asyik dengan laptop yang ada didepan mata, mengobrol yang tidak ingin diputus, tidur yang pulas dan lelap. Apakah itu yang dinamakan mencintai akhirat daripada dunia. Tetap mempertahankan keasyikan sementara daripada mendahulukan panggilan tuhan untuk beristirahat.
                Penulis katakan panggilan tuhan untuk shalat adalah kegiatan beristirahat. Karena kita serasa sudah capek mengerjakan tugas misalnya kemudian membasuh air untuk wudlu lalu berdiri menghadap sang pencipta sampai dzikir mengingat tuhan disertai istigfar memohon ampunan kepada-Nya. Jika kita merasakan ibadah kita dengan perasaan yang tidak terpaksa maka rasa ibadah kita akan lebih bermakna.
                Ini artinya bukan penulis dapat melakukan itu semua. Tapi penulis hanya ingin menyatakan apa yang terpendam dalam hati. Agar tidak menjadi bangkai yang membusuk. Dengan tulisan ini penulis bertujuan secara pribadi agar aku dan sobat sekalian dapat sadar akan kemunduran muslim dalam menyaingi para sejarawan masa sekarang. Terutama tekhnologi.