Senin, 20 Juni 2011

Dunia bagaikan WC ???

                Aku tak tahu harus berbuat apa. Memikirkan apa yang telah dikerjakan oleh orang non Muslim. Merenungkan sesuatu yang non muslim inovasi untuk dunia. Mungkin inikah dari kemunduran orang muslim dibanding bangsa lain. Atau ini suatu kemajuan yang didapat muslim dunia terutama Indonesia. Aku tak tahu itu.
                Contoh kecil saja seperti software atau hardware yang kita gunakan. Misalya program-program  untuk menulis, membantu mengerjakan tugas, membuat surat, dan hal lainnya. Apalagi kalau kita berbicara tentang internet. Banyak orang sukses dengan membuat inovasi baru disana disertai dengan hal positif. Dari sekian persen mungkin hanya beberapa muslim yang ikut serta dalam menuliskan sejarah.
                Aku bukan meremehan muslim karena aku juga seorang muslim. Aku tahu bahwa masa lalu adalah masa gemilang yang didapat muslim. Seperti kebangkitan muslim di Spanyol dan Negara eropa lainnya. Atau para sejarawan muslim para ulama yang memenuhi khazanah keislamaan dengan tulisannya. Ya, itu masa lalu. Apakah kita akan kembali ke masa lalu dan apakah bisa ?
                Jika dapat memilih dan bisa untuk memlih aku akan kembali ke  masa lalu dan meninggalkan dunia masa ini. Tapi sayangnya, waktu tak dapat digapai lagi kecuali masa depan dan sekarang. Aku sudah muak dan tak tahan melihat dunia ini.
                Mungkin benar maqalah salah satu guruku “Biarkan saja orang kafir yang memikirkan dunia dengan mengembangkan tekhnologi dan ilmu pengtahuan yang lain dan kita sebagai muslim dapat focus berbekal nanti di akhirat”.
                Aku berfikir tentang maqalah itu benar juga. Kita tak usah memikirkan jauh – jauh tentang dunia misalnya seperti internet tekhnologi dan lainnya. Kita cukup merenung di kamar sendiri dan membaca qur’an kemudian diiringi dzikir, shalat. Malam shalat dan pagi berpuasa.
                Tapi beberapa hari kemudian aku berfikir bukan itu yang dimaksud. Muslim harus ikut berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains. Terutama tekhnologi yang sedang berkembang melejit dan pesat. Ikut menyumbangkan apa yang dimiliki untuk dunia. Apapun itu.
                Makusdnya adalah muslim tidak terpenjara dengan hanya memikirkan dunia saja. Tapi dalam peranan itu kita dapat mengembangkan tekhnologi denga tujuan amal akhirat.  Tidak sampai terlarut dalam kedunian yang menjadikan kita sebagai orang yang Hedonisme dan Sekularisme. Perilaku itu yang dikwatirkan para ulama masa lalu dan sekarang. Masyarakat  yang terlalu cinta kepada dunia sampai melupakan tujuan akhir dari kehidupan.
                Aku teringat kembali dengan dawuh kyiai Taufiq “Dunia tak usah dicintai, dunia ini hanya menjadi kebutuhan kita bagaikan WC”. Ya, bagaikan WC yang kita pastinya tak akan pernah mencintainya kecuali orang yang abnormal. Pada WC kita hanya butuh bukan cinta. Mungkin kita akan mengelak jika mencintai WC dan memang itu adanya.
Tapi jika dunia. Begitu pintarnya dunia menipu diri kita untuk selalu mencintainya. Seperti yang dikatakan tadi, bahwa kita hanya cukup sebatas membutuhkan dunia saja. Tidak sampai mencintai.
Bagaimana tidak ? anda dan mungkin penulis  ketika mendengar adzan maka kita membiarkan dan hanya menjadikan itu sebagai suara lewat saja tidak menggubrisnya. Kita tetap asyik dengan laptop yang ada didepan mata, mengobrol yang tidak ingin diputus, tidur yang pulas dan lelap. Apakah itu yang dinamakan mencintai akhirat daripada dunia. Tetap mempertahankan keasyikan sementara daripada mendahulukan panggilan tuhan untuk beristirahat.
                Penulis katakan panggilan tuhan untuk shalat adalah kegiatan beristirahat. Karena kita serasa sudah capek mengerjakan tugas misalnya kemudian membasuh air untuk wudlu lalu berdiri menghadap sang pencipta sampai dzikir mengingat tuhan disertai istigfar memohon ampunan kepada-Nya. Jika kita merasakan ibadah kita dengan perasaan yang tidak terpaksa maka rasa ibadah kita akan lebih bermakna.
                Ini artinya bukan penulis dapat melakukan itu semua. Tapi penulis hanya ingin menyatakan apa yang terpendam dalam hati. Agar tidak menjadi bangkai yang membusuk. Dengan tulisan ini penulis bertujuan secara pribadi agar aku dan sobat sekalian dapat sadar akan kemunduran muslim dalam menyaingi para sejarawan masa sekarang. Terutama tekhnologi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar